Pengertian Lartas dan Contoh Barang – Barang Lartas

Pengertian Lartas dan Contoh Barang - Barang Lartas
 

Pengertian Lartas

Pengertian Lartas dan Contoh Barang – Barang Lartas | Mungkin dari kita masih ada yang bingung dengan kata “Lartas ” , Sebenarnya apa itu Lartas ? Lartas singkatan dari Larangan dan Pembatasan. Yang artinya Lartas adalah barang yang dilarang dan atau dibatasi impor atau ekspornya. Nah biasanya kata – kata Lartas ini biasa terdengar saat melakukan perdagangan internasional, baik itu impor maupun ekspor.

Maka dari itu kita harus tau barang – barang apa saja yang dilarang dan dibatasi untuk diperdagangkan ekspor dan impor. Ada pun barang yang memerlukan izin untuk bisa di impor dan ekspor, barang yang memerlukan izin ini biasa disebut “terkena lartas”.

Apa yang dimaksud dengan Barang Lartas?

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 161/PMK.4/2007 juncto PMK 224/PMK.4/2015, barang lartas adalah barang yang dilarang atau dibatasi pemasukannya ke dalam daerah pabean maupun pengeluarannya ke luar dari daerah pabean.

Jenis – jenis LARTAS ?

Sampai saat ini lartas dibagi menjadi dua jenis yaitu lartas barang impor dan lartas barang ekspor. Lartas barang impor sendiri masih dibagi menjadi beberapa jenis lagi. Jenis tersebut adalah lartas border dan laras post border. Namun untuk lartas jenis barang ekspor tidak dibagi menjadi beberapa jenis kembali.

Pengertian Lartas dan Contoh Barang - Barang Lartas

1. Lartas border

Lartas border adalah lartas yang harus dipenuhi sebelum barang dikeluarkan dari Kawasan Pabean (Pelabuhan). Contoh dari lartas border ini salah satunya adalah kewajiban karantina bagi importasi ikan segar. Menteri Kelautan dan Perikanan mengatur hal ini melalui Peraturan Nomor 18/Permen-Kp/2018 tentang Jenis Komoditas Wajib Periksa Karantina Ikan, Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan

2. Lartas post border

Lartas post border dapat dipenuhi setelah barang dikeluarkan dari Kawasan Pabean (Pelabuhan). Karena lartas post border dapat dipenuhi setelah barang dikeluarkan dari kawasan pabean maka pengawasannya dikembalikan ke instansi yang mengatur lartas tersebut. Contoh dari lartas post border ini adalah kewajiban melampirkan Laporan Surveyor (LS) untuk importasi barang modal dalam keadaan tidak baru. Lartas ini didasarkan pada Peraturan Menteri Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 90 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Barang Modal Dalam Keadaan Tidak Baru.

Adapun dasar penetapan barang dibatasi ekspornya berdasarkan Permendag 13 Tahun 2012, diantaranya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, menjaga kelestarian alam, ketentuan internasional, dan untuk meningkatkan nilai tambah dari barang tersebut.

Berikut barang – barang yang masuk ke dalam kategori barang yang dibatasi ekspornya:

  • Kopi.
  • Produk kehutanan atau kayu.
  • Rotan ½ jadi (dari budidaya).
  • Intan.
  • Prekursor.
  • Timah batangan.
  • Binatang jenis lembu hidup (bibit sapi, kerbau).
  • Kulit buaya wet blue (kulit hewan yang disamak).
  • Binatang liar dan tumbuhan yang tidak dilindungi termasuk APP II Cites.
  • Anak ikan dan ikan Napoleon Wrasse, benih ikan Bandeng.
  • Inti kelapa sawit (CPO) dan turunannya.
  • Minyak dan gas bumi.
  • Bijih perak dan konsentratnya.
  • Perak (bubuk, tidak ditempa, ½ jadi).
  • Emas (bubuk, tidak ditempa, gumpalan, ingot).
  • Pupuk urea.
    Sisa dan skrap (dari besi atau baja stainless, tembaga, kuningan).
  • Sarang burung walet.

Sedangkan dasar penetapan barang yang dilarang ekspornya menurut Permendag 13 Tahun 2012, guna menjaga dari kelangkaan barang, menjaga kelestarian alam, dan menjaga barang bernilai sejarah.

Berikut barang – barang yang masuk ke dalam kategori barang dilarang ekspornya:

  • Anak ikan dan ikan Arwana (s.formasus dan s.jardini), benih ikan sidat dibawah 5mm, ikan hias air tawar atau jenis Botia Macracanthus 15cm, udang galah dibawah 8cm, udang Penaeidae (induk dan calon induk).
  • Rotan asalan dan ½ jadi (dari hutan alam).
  • Kayu bulat, BBS, bantalan rel KA, KG.
  • Pasir (alam, silika, kwarsa, laut), tanah (liat, diatomea, top soil).
  • Biji timah dan konsentratnya, abu dan residu, tailing.
  • Batu mulia (selain intan), rubi, safir, jamrud.
  • Karet bongkah.
  • Kulit mentah, pickled dan wet blue dari binatang melata kecuali buaya wet blue.
  • Skrap besi atau baja kecuali dari Pulau Batam.
  • Binatang liar dan tumbuhan alam yang dilindungi termasuk dalam APP I & III Cites.
  • Barang kuno.

Barang yang dibatasai ekspornya bukan berarti tidak bisa diekspor. Barang – barang tersebut tetap bisa diekspor, dengan persyaratan dan dokumen penunjang tertentu.

Share on Facebook Share on Twitter Share on Google